Rabu, 06 Juni 2012

Analisis sederhana novel Tahta Awan karya Sinta Yudisia

II. TAKHTA AWAN Berangkat dari latar belakang pengategorian sastra populer dan sastra serius tersebut, saya ingin meneliti mengenai sebuah novel berjudul “TakhtaAwan” karya Sinta Yudisia yang merupakan buku kedua dari triologi “The Road To The Empire”. Apakah novel tersebut masuk ke dalam kategori populer atau serius? “Takhta Awan” menceritakan kisah kepahlawanan ksatria Muslim Mongolia, Takudar Khan, sang penguasa Mongolia. Ia merupakan keturunan Jengiz khan. Namun, banyak yang beranggapan bahwa ia tak layak memimpin Mongolia karena kelembutan hatinya. Seperti yang diketahii, pemnguasa sebelumnya Jengiz Khan merupakan pemimooin yang keras sehingga banyak musuh yang gentar terhadapnya. Pemberontakkan pun tak dapat dihindarkan. Selir Albuqa Khan yang licik menghimpun kekuatan dan menyusun taktik untuk menjatuhkan kekuasaan Takudar Khan. Ia berhasil mengembalikan Argun Khan, saudara Takudar Khan yang sebelumnya berada dalam jeruji hukuman di Penjara. Para pendukung Takudar dilanda perpecahan. Beberapa Muslim tetap berdiri dibelakangnya, sementara yang lain berpendapat lain mengenai kekuasaan muslim di Mongolia. Sementara perempuan-perempuan disekitar Takudar menunjukkan dukungan dengan caranya masing-masing. Perjalanan politik ini pun penuh dengan perjuangan. Akhirnya, kalimat terakhir dalam novel tertulis “ jika Mongolia tak mengizinkan Takudar menguasai Ulanbataar, masih terbuka kesempatan membangun Khanate baru di wilayah Persia, dimana orang-orang Mongolia diterima dengan tangan terbuka”. Dari segi sampul depan novel. Sastra serius biasanya memilki desain gambar yang abstrak. Tak jelas apa gambarnya, tetapi memilki makna dalam bagi orang yang dapat memahaminya. Sedangkan novel populer, lebih berwarna-warni, biasanya didesain dengan sangat menarik, gambar pria dan wanita yang cantik dan tampan. Dalam novel “Takhta Awan” terlihat gambar wanita cantik dan pria gagah pada desainnya. Namun, terdapat gambar latar yang menandakan sebuah pertempuran di medan perang. Sehingga dapat kita simpulkan bahwa isi dari novel ini sarat dengan cerita peperangan dan politik yang kental dimana dalam cerita politik dan perang tidak mungkin sebuah cerita yang sepele atau sekedar hiburan yang setelah seleai dibaca akan membuat kita tersenyum-senyum sendiri. Kemudian kita dapat melihat dari segi penokohan. Novel populer biasanya memiliki ciri tokoh yang tampan dan cantik-cantik. Selama saya membaca novel ini, memang rata-rata tokoh perempuan di dalamnya adalah wanita Mongolia yang cantik dan sempurna. Saya kurang memiliki pengetahuan juga apakah memang mungkin wanita-wanita Mongolia memiliki ciri khas fisik yang selalu cantik seperti wanita Maroko yang terkenal cantik-cantik seperti itu misalnya atau tidak. Yang jelas Almamuchi, Karadiza dan beberapa tokoh wanita muda lainnya dalam novel ini memang memiliki pencirian fisik yang cantik dan pandai bertarung. Untuk tokoh pria pun semuanya gagah perkasa, mnungkin karena memang latar yang diceritakan adalah peperangan dan kisruh politik menjadikan semua laki-laki Mongolia mau tidak mau terdidik menjadi laki-laki yang gagah perkasa karena sejak kecil sudah diajari ilmu beladiri. Pada intinya tokoh pria dan wanita pada novel memiliki ciri fisk yang cantik-cantik dan tampan. Selanjutnya masih mengenai tokoh. Yang membuat saya agak kesulitan dalam membaca novel “Takhta Awan” ini adalah banyaknya tokoh. Betapa saya mendapati begitu banyak tokoh yang memang pada akhirnya saling berhubungan dan melengkapi cerita. Namun, karena begitu asingnya saya terhadap nama-nama tersebut ( Hal ini juga yang menjadi nilai plus bagi penulis karena riset yang begitui luar biasa atas negara Mongolia ) membuat saya agak kesulitan dalam merangkai alur ceritanya. Nama-nama yang sulit dihafal membuat saya tidak mampu menyerap cerita dengan baik pada saat pembacaan pertama saya terhadap novel. Mungkin perlu beberapa kali daam membacanya agar saya benar-benar memahami novel ini. Alur yang akan dibahas selanjutnya pada tulisan ini. Novel ini memiliki alur tunggal, alur pada novel adalah maju. Mungkin ada flashback sedikit ketika para tokohnya berpikir tentang masa lalu. Namun, secara garis besar novel ini memliki alur tunggal. Hanya saja, pada tiap-tiap bab mengalami pergantian sudut pandang penceritaan. Tokoh-tokoh yang banyak tersebut masing-masing menjadi pencerita pada tiap-tiap bab, inilah yang membuat saya juga sedikit merasa sulit dalam pemahaman cerita. Sudut pandang yang berganti-ganti dengan nama tokoh yang saya pun meski sudah sering mendapatinya dalam cerita, tak mampu menghubungkan dengan apa yang tokoh tersebut lakukan pada cerita atau bab selanjutnya. Terlebih saat tokoh perempuan. Semua bercirikan wanita cantik sehingga terkadang saya pikir Karadiza adalah almamuchi atau Almamuchi adalah Karadiza. Begitupun tokoh pria, apakah ini Urghana, Uchatadara, Rasyiduddin, Fariih Gaspar, dan sebagainya. Terlalu banyak tokoh dengan ciri yang mirip sehingga membingungkan. Gaya bahasa yang digunakan pengarang, yakni Sinta Yudisia terhitung mudah dicerna dan sangat populer. Tidak seperti novel serius seperti “Bulan Jingga dalam Kepala” yang benar-benar memusingkan, karena satu kalimat saja harus dibaca berulang-ulang agar dapat memahami maksudnya. Tidak menggunakan idiom-idiom yang mengaburkan makna, tidak mengharuskan untuk membaca satu kalimat berulang-ulang. Semua mengalir sehingga enak untuk mengantarkan cerita. Namun, ada juga hal yang membuat saya kesulitan. Riset penulis saya akui luar biasa, semua istilah dalam Mongolia ia kuasai, nama tempat, makanan, pakaian tradisional, dan lain sebagainya. Itu menjadi salah satu hal yang menguatkan setting cerita, sehingga Mongolia adalah tempat yang tak dapat diganggu gugat. Tidak bisa ketika cerita ini harus dibawa ke Vietnam atau India, karena nama-nama khas dari Mongolia itu belum tentu dapat ditemukan pada negara lain. Oleh karena itulah, karena begitu banyaknya istilah asing Mongolia dalam novel ini memberikan pengetahuan baru sekaligus juga kebingungan dalam merangkai pemahaman cerita. Istilah yang saat sekali membacanya takkan langsung terhafal karena begitu asingnya ditelinga orang Indonesia. Mungkin kita harus membolak-balik halaman sebelumnya untuk melihat arti atau menhgafal pelan-pelan agar tak membingungkan saat membaca cerita selanjutnya dari rangkaian bab-bab yang begitu banyak dari novel ini. Jika melihat amanat dalam novel ini, maka akan ditemukan beberapa. Namun tergantung juga pada pemhaman dan pengetahuan pembacanya, sangat subjektif sekali. Meskipun saya tidak tertarik dengan kajian feminis, tetapi mungkin saja jika terlihat dari sudut pandang tersebut, wanita-wanita di novel ini memiliki jiwa yang kuat. Pendekar gagah berani dalam novel in tidak selalu laki-laki, meskipun jika memang kita tak ada puasnya maka pasti akan dituntut mengapa pendekar tetap didominasi oleh laki-laki. Bagi saya tokoh seperti Karadiza dan Almamuchi adalah sosok wanita kuat yang merupakan seorang pendekar. Terutama pada orang-orang disekitarnya, termasuk Silaihua. Meskipun Sialihua hanyalah seorang pelayan Almamauchi namun ia begitu berkontribusi dalam melindungi Alnamuchi dan bayinya ketika dalam perjalanan. Almamuchi dan Karadiza amat berkontribusi atas terselesaikannya konflik kekuasaan yang dialami Takudar Khan. Namun, cerita mengenai pelecehan terhadap wanita pun terdapat dalam novel, dimana almamuchi telah dipaksa melahirkan anak Argun Khan atas perbuatan keji terhadapnya. Amanat selanjutnya yang dapat digali adalah semangat umat Muslim yang tak pernah padam. Ia akan senantiasa menyiarkan cahaya Islam dimanapun mereka berada. Jikapun tak dapat diterima, maka ia akan mencarinya kembali ditempat lain, di bumi yang telah Allah SWT sediakan untuk mereka hidup dan berdakwah. Dengan demikian, dapat saya simpulkan bahwa novel “Takhta Awan” dikategorikan populer dari segi penggunaan bahasanya yang memang populer dan penokohannya. Namun, bagi saya ini adalah novel populer yang bagus, sangat bagus! Riset penulis luar biasa terhadap latar tempat yang digunakannya dalam cerita. Kisah kepahlawanan yang tidak kalah dengan novel-novel terjemahan dari luar negeri, kisah cinta yang lembut pula yang membuat kisah di dalamnya tidak menjadi kaku hanya seputar politik perebutan kekuasaan dan peperangan. Ada air yang menyejukkan di tengah gurun yang gersang. Begitulah penggambaran terhadap novel ini. Cerita poitik yang berat namun diselingkan dengan kisah cinta agar tidak membosankan. Oleh karena itu, novel populer tidaklah selalu buruk. Pengategorian novel populer dan novel serius sesungguhnya tidak begitu harus seekstrim itu. Bisa jadi tidak usah ada istilah tersebut, yang ada hanyalah novel bagus dan novel tidak bagus.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar